Tuesday, September 20, 2016

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

STRATEGI MEMBANGUN TEORI
I.                   PENDAHULUAN
Penelitian tindakan merupakan salah satu tipe penelitian tipe deskriptif, yang tertuju kepada pemecahan masalah tertentu yang ada pada masa sekarang. Secara umum penelitian tindakan merupakan suatu penelitian yang dilakukan ditengah-tengah situasi riil, dalam rangka mencari dasar bagi petugas-petugas untuk bertindak atau beroperasi dalam mengatasi suatu kebutuhan praktis yang mendesak.
 Dalam penelitian kuantitatif penggunaan teori secara deduktif dan menempatkannya di awal rencana penelitian. Tujuan penelitian kuantitatif adalah menguji atau membuktikan sebuah teori, bukannya untuk mengembangkan teori. Oleh karena itu, untuk memulai penelitian dengan mengajukan sebuah teori, mengumpulkan data untuk mengujinya dan menguji ulang apakah teori tersebut diperkuat atau diperlemah oleh hasil penelitian. Teori tersebut menjadi kerangka penelitian secara keseluruhan, suatu model terorganisir pernyataan atau hipotesa penelitian dan prosedur pengumpulan data.
II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Apa pengertian teori dan Macam-macamnya?
B.     Bagaimana strategi membangun teori?
III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian Teori
Setiap penelitian selalu menggunakan teori. Seperti dinyatakan oleh Neumen, Teori adalah seperangkat konstruk (konsep), definisi, dan proposisi yang berfungsi untuk melihat fenomena secara sistematik, melalui spesifikasi hubungan antar variabel, sehingga dapat berguna untuk menjelaskan dan meramalkan fenomena.
Selanjutnya Siti Rahayu Haditono menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang ada.[1]
Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antarkonsep.[2] Teori menunjukkan hubungan antara fakta-fakta. Teori menyusun fakta-fakta dalam bentuk yang sistematis sehingga dapat dipahami.[3]
Dalam penggunaan secara umum, menurut snelbecker teori-teori berarti sejumlah proposisi yang terintegrasi secara sintaktik (artinya kumpulan proposisi ini mengikuti aturan-aturan tertentu yang dapat menghubungkan secara logis proposisi yang satu dengan proposisi yang lain, dan juga pada data yang diamati), serta yang digunakan untuk memprediksi dan menjelaskan peristiwa-peristiwa yang diamati.[4]
Menurut Kinayati Djojosuroto & M.L.A. Sumaryati, teori digolongkan kepada empat macam, yaitu asumsi, konsep, konstruk, dan proposisi.
1.      Asumsi
Asumsi adalah suatu anggapan dasar tentang realita, harus diverifikasi secara empiris.[5] Dalam penelitian ilmu sosial, setidaknya kita mengenal dua pendekatan yang memengaruhi proses penelitian, mulai dari merumuskan permasalahan hingga mengambil kesimpulan. Setiap pendekatan memiliki asumsi dasar yang berbeda. Asumsi dasar yang ada di dalam pendekatan kuantitatif bertolak belakang dengan asumsi dasar yang dikembangkan di dalam pendekatan kualitatif. Asumsi dasar inilah yang memengaruhi pada perbedaan dari cara pandang peneliti terhadap sebuah fenomena dan juga proses penelitian secara keseluruhan.
Adapun asumsi dasar pendekatan kuantitatif , yaitu:
a.       Asumsi Dasar Ontologi (Hakikat Dasar Gejala Sosial)
Gejala sosial dikatakan sebagai sesuatu gejala yang real, yang dapat diungkap dengan menggunakan indra manusia. Karena suatu gejala adalah real, bisa terjadi kesepakatan di antara individu-individu yang ada di sekitarnya, dan suatu ketika gejala tersebut menjadi sebuah fenomena yang sifatnya universal dan diakui oleh orang banyak.
b.      Asumsi Dasar Epistemologi (Hakikat Dasar Ilmu Pengetahuan)
Suatu gejala adalah nyata. Karena gejala itu sifatnya nyata, gejala yang ada bisa dipelajari. Gejala yang ada bisa ditangkap dengan menggunakan indra. Dengan demikian, kita bisa membuat perbedaan antara yang satu dengan yang lain.

2.      Konsep
Konsep adalah istilah, terdiri dari satu kata atau lebih yang menggambarkan suatu gejala atau menyatakan suatu ide (gagasan) tertentu.[6] Bailey (1982) menyebutkan sebagai persepsi (mental Image). Atau abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal khusus.
Konsep juga dibangun dengan maksud agar masyarakat akademik atau masyarakat ilmiah maupun konsumen penelitian atau pembaca laporan penelitian memahami apa yang dimaksud dengan pengertian variable, indikator, parameter, maupun skala pengukuran yang dimaksud penelitiannya kali ini. Lebih konkrit, konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena yang sama.[7]
Dalam membangun konsep ada dua desain yang perlu diperhatikan, yaitu generalisasi dan abstraksi. Generalisasi adalah proses bagaimana memperoleh prinsip dari berbagai pengalaman yang berasal dari literatur dan empiris. Abstraksi yaitu cakupan ciri-ciri umum yang khas dari fenomena yang dibicarakan.

3.      Konstruk
Konstruk adalah konsep yang ciri-cirinya dapat diamati langsung seperti pemecahan masalah. Konsep seperti ini lebih tinggi tarafnya dari pada abstraksi yang ciri-cirinya dapat diamati langsung. Jadi konstruk adalah konsep sedangkan tidak semua konstruk adalah konsep.[8] Menjadikan konstruk yang dapat kita ukur disebut operasionalisasi. Kata kerjanya mengoperasionalisasikan.


Pada umumnya metode kontruksi teori dibagi menjadi dua macam, yaitu:
a.       Konstruksi teori secara Deduktif
Teoretikus deduktif bekerja dari atas ke bawah. Dalam teori semacam ini mula-mula dirumuskan sekumpulan asumsi dasar atau postulat-postulat dengan memperhatikan factor-faktor tertentu yang telah dikenal. Dari postulat-postulat ini dikeluarkan hipotesis-hipotesis atau teorema-teorema. Hipotesis- hipotesis ini kemudian diuji, lalu hipotesis yang terbukti benar dipertahankan sehingga selama periode terentu, teori ini mengalami koreksi sendiri.
b.      Konstruksi teori secara Induktif
Teoretikus induktif bekerja dari bawah ke atas, menyusun system-sistem yang memperhatikan hasil-hasil penelitian yang  yang telah berkali-kali diuji. Lalu menyusun system-sistem yang lebih tinggi tingkatnya sebagai generalisasi teori mini itu, dan akhirnya merumuskan suatu teori yang mencankup semua pernyataan yang lebih rendah tingkatannya.[9] 

4.      Proposisi
Proposisi adalah hubungan yang logis antara dua konsep.
B.     Strategi membangun Teori
Perangkat kontruksi teori, bila diurutkan dari yang paling dekat dengan data yaitu: konsep (konsep dan konstruks), proposisi (hipotesis dan tesis), dan teori.
Dimana konsep dibagi menjadi dua yaitu:
a. konsep yang tingkat abstraksinya masih rendah, dimana indicator konsep tersebut langsung masih bisa diamati pada objek konsep itu, seperti meja, maka cirri-cirinya langsung diamati pada benda itu.
b. kontruk, yaitu konsep yang tingkat abstraksinya lebih tinggi, sehingga cirri-cirinya tidak bisa langsung diamati pada obyek, perlu pengukuran dan penelitian lebih dahulu seperti: sosialisasi, keakraban, dan sebagainya. umumnya konsep dalam ilmu sosial merupakan konstruk.
Teori dibangun dari data empiris, melalui perangkat konsep dan proposisi. Apabila konsep yang diteliti dan proposisi yang dibangun itu belum pernah diteliti oleh orang lain, maka teori yang dibangun dari konsep dan proposisi itu juga merupakan teori yang baru. Istilah teori yang baru harus dipahami dalam kaitan dengan tujuan pokok penelitian yaitu menemukan teori baru, mengembangkan teori yang sudah ada, dan revisi teori yang sudah tidak sesuai lagi.
Teori itu dibedakan menjadi Grand Theory dan Subtantive Theory. Grand Theory adalah teori yang baru sama sekali yang sebelumnya belum ada, penemunya adalah ahli pikir yang genius, sehingga tidak sembarang orang bisa melakukan. contoh teori evolusi dari Darwin. Kemudian telah berkembang dengan pesat teori substantive dari masing-masing grand theory, bahkan mampu membangun grand theory baru, sehingga mampu membangun cabang dan ranting ilmu disegala bidang. Tiap teori dibangun berdasarkan pola pikir tertentu, konsekuensinya teori substantive yang dibangun juga menggunakan pola pikir grand theory nya.
Ada empat langkah mental Constructs yang harus dilalui untuk mengubah konsep dan proposisi menjadi teori, yaitu :
1.     Membentuk suatu konsep yang mengindentifikasi ciri-ciri umum (generalisasi) dari explanan (variabel bebas) disebut konsep explanan.
2.     Membentuk suatu konsep yang mengidentifikasi ciri-ciri khas dari explanandum (variabel terikat) sebagai akibat logis dari keberadaan explanan, disebut konsep explanandum
3.     Membentuk proposisi yaitu menghubungkan secara logis dan konsisten antara konsep expalanan dan konsep explanandum.
4.     Membentuk beberapa proposisi yang menjabarkan explanan atau explanandum umum, sehingga hipotesis atau tesis bisa diuji dan disimpulkan atau sebagai hasil pembuktiaan empiris hipotesis atau tesis yang ditemukan.[10]
                                                                                             

IV.             KESIMPULAN
Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antarkonsep. Teori menunjukkan hubungan antara fakta-fakta. Teori menyusun fakta-fakta dalam bentuk yang sistematis sehingga dapat dipahami.
Teori digolongkan kepada empat macam, yaitu asumsi, konsep, konstruk, dan proposisi.
Teori dibangun dari data empiris, melalui perangkat konsep dan proposisi. Apabila konsep yang diteliti dan proposisi yang dibangun itu belum pernah diteliti oleh orang lain, maka teori yang dibangun dari konsep dan proposisi itu juga merupakan teori yang baru.
V.                PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin......









DAFTAR PUSTAKA

Bungin,M. Burhan, Metodologi Penelitian Kuantitatif,  Jakarta: Kencana, 2008
Djojosuroto, Kinayati & M.L.A Sumaryati, Prinsip-Prinsip Penelitian Bahasa & Sastra, Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia, 2004
Hasan,M. Iqbal, Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Bogor: Ghalia Indonesia, 2002
Muhadjir, Noeng,  Metodologi Keilmuan Paradigma Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed, Jogja: Rake Sirasin, 2007
S. Nasution, Metode Research, Penelitian Ilmiah, Bandung: Jemmars, 1991
Sugiyono, Metode Penelitian kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung: Alfabeta, 2009
Wilis Dahar, Ratna, Teori-teori Belajar dan pembelajaran, Jakarta: Erlangga, 2006
Moh Kasiram, Metodologi Penelitian Kuantitaif-Kualitatif, Yogyakarta: UIN Maliki Press, 2010













 



STRATEGI MEMBANGUN TEORI

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Penelitian Tindakan Kelas
Dosen Pengampu: Syamsul Ma’arif, M. Ag.





Disusun oleh:

Khanif Ulya Dzakki                   (103111047)
M. Khoirul Umam                      (103111063)
Muh. Azhar  Farih                     (103111065)
M. Solekhan                                (103111060)   




FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013
 



                [1] Prof. Dr. Sugiyono, Metode Penelitian kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 52-53
                [2] Kinayati Djojosuroto & M.L.A Sumaryati, Prinsip-Prinsip Penelitian Bahasa & Sastra, (Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia, 2004), hal. 17
                [3] S. Nasution, Metode Research, Penelitian Ilmiah, (Bandung: Jemmars, 1991), hal. 4
                [4] Ratna wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan pembelajaran, (Jakarta: Erlangga, 2006), hlm. 12
                [5] Kinayati Djojosuroto & M.L.A Sumaryati, Prinsip-Prinsip Penelitian Bahasa & Sastra, hlm. 20
                [6] M. Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2002), hlm. 17
                [7] M. Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kuantitatif, (Jakarta: Kencana, 2008) hlm. 57
                [8] Kinayati Djojosuroto & M.L.A Sumaryati, Prinsip-Prinsip Penelitian Bahasa & Sastra, hlm.18-19
[9] Ratna wilis Dahar, Teori-teori Belajar dan Pembelajaran, hlm. 12
                [10] Moh Kasiram, Metodologi Penelitian Kuantitaif-Kualitatif, (Yogyakarta: UIN Maliki Press, 2010), hlm 393-395

No comments:

Post a Comment